Rabu, 27 April 2011
UAN Part one :)
UAN
Hari ini saya ngajar. Di angkot saya bertemu dengan sekelompok anak sekolah. Sepertinya mereka siswi kelas 3 SMA, terlihat dari obrolan mereka soal UAN. Isi obrolannya ya, apalagi selain kecemasan dan kekhawatiran mengenai UAN.
Omong-omong soal UAN pikiran saya berkelana ke masa sekitar enam tahun yang lalu. Saat saya masih duduk di bangku kelas 3 MTs. Sedari dulu UAN memang sudang menjadi “monster” yang menakutkan bagi setiap pelajar yang akan melaluinya.
Begitupun dengan saya. Waktu itu rasanya takuuut banget ketika harus menghadapi UAN. Segala persiapan harus dipersiapkan dengan matang. Persiapan dalam menghadapi UAN ada 3 mulai dari jasadiyah, fikriyah dan tentu saja ruhiyyah.
Persiapan dari segi fikriyah tentu dengan belajar mati-matian. Saya ingat betul, saya tidak pernah bolos bimnas (bimbingan nasional; semacam bimbingan dalam menghadapi UAN) demi mempersiapkan diri menghadapi peperangan akbar bagi para pelajar. Saat itu saya sangat akrab dengan buku kumpulan soal UAN dan buku-buku ringkasan pelajar. Kemanapun kaki melangkah buku “kramat” itu selalu saya bawa kemana-mana, mau dibaca atau tidak yang penting buku itu tetap eksis dalam genggaman saya, heheheh..
Lain fikriyah lain juga jasadiyah. Saya tidak terlalu mempersiapkan jasadiyah saya. Saya juga sebenarnya sudah lupa sih persiapan jasadiyah apa yang dulu saya lakukan. Yang saya ingat dulu ada praktek olah raga, sebagai salah satu syarat kelulusan dalam ujian praktek. Tapi jenis olah raganya apa, saya lupa. Maklum sudah tua.. -_-a
Beralih ke persiapan ruhiyyah. Persiapan ruhiyyah tentu merupak suatu yang penting. Waktu itu rasanya santri kelas 3 menjadi lebih rajin dari biasanya. Berdo’a lebih lama dan lebih senang menyibukkan diri di masjid dan asyik dengan aktivitas ruhiyyah masing-masing.
Maka tibalah hari yang dijanjikan.. Ujian nasionalpun datang tak terhindarkan. Waktu itu ujian dilaksanakan di gedung tabuk (lupa-lupa ingat sama nama gedungnya) yang jelas gedung tersebut berada di kawasan ikhwan. Waktu itu masih pada culun-culunnya, hihi.. masa-masa kelas tiga mts ditandai masa-masa awal puber (gosip yang beredar di pondok sih gitu, marhalah 3 MTs pasti identik mulai lirik melirik lawan jenis :p). Terjadilah tragedi surat menyurat yang diselipin di bangku atau di kartu UAN yang dipasang di meja. Haha.. Culunnyaa :p
Setalah hiruk-pikuk UAN berlalu, datanglah hari pengumam kelulusan. Waktu itu saya ada di kamar Atikah, bersama teman-teman yang lain. Harap-harap cemas menunggu hasil UAN. Karena saking penasarannya akhirnya saya menghubingi Ibu Nurhamidar, wali kelas saya waktu itu. Dan ternyata, eng-ing-eng.. NILAI UAN SAYA TIDAK ADA. Yap. Waktu itu nilai pelajaran bahasa inggris saya hilang‼ Dan jika memang benar-benar tidak ketemu, maka saya dinyatakan tidak lulua. Huaa :’(
Mendapat “teguran” seperti ini saya mencoba instrospeksi diri. Saya coba flashback ke masa-masa persiapan, apa jangan-jangan saya memang tidak belajar dengan sunggung-sungguh, sehingga nilai saya jelek, saking jeleknya tuh nilai, sampai menyebabkan kertas ujian saya ilang (ngacomodeon, namanya juga orang galau, pikirnnya jadi ngaco kan?*ngeles*)
Saya juga berfikir, apa saya salah nulis kode atau jangan-jangan ada kolom yang belum saya arsir? Hadoohh.. Pokonya waktu itu dunia serasa runtuh, perasaan juga jadi teu paruguh, makanpunta utuh..#apaassiiihh
Lama-lama-lama saya berfikir, ternyata saya menyimpulkan sesuatu: Ahaa.. ternyata kondisi ruhiyah saya memang menurun pasca UAN. *astagfirullah* jangan-jangan karena itu.. Waktu itu saya seakan sombong. Mentang-mentang UANnya sudah selesai, aktivitas ruhiyyahpun semakin menurun. Robbanaa.. Jangan-jangan memang karena itu, karena saya lupa meminta. Bodoh sekali diri ini yaa Rabb..
Seketika itu saya memohon ampun, dan kembali berdo’a. Memohon agar nilai UAN saya dapat keluar dengan hasil yang memuaskan, dan SUBHANALLAH WALHAMDULILLAH.. setelah berdo’a saya mendapat telpon dari kepala sekolah saya, beliau menyampaikan bahwa lembar jawaban saya ditemukan dan nilai saya pun cukup memuaskan.
Well, maksudnya nulis ini sih, selain pengen nostalgia masa-masa UAN, juga sekalian pengen sharing dan saling mengingatkan, bahwa aspek ruhiyyah sangat dibutuhkan dalam menghadapi setiap ujian. Semakin baik kondisi ruhiyyah kita, maka akan semakin tenang kita dalam menyelesaikan persoalan. Semakin kuat ruhiyyah kita, semakin kuat pula kita dalam menjalani hidup ini.
Saya pernah sharing dengan salah satu teman di kampus. Waktu itu kami tengah membicarakan seorang kakak yang Subhanallah.. Setiap kali beliau berbicara dan menyampaikan nasihatnya, rasanya langsung masuk dan ngena di hati. Ternyata usut punya usut, selidik punya selidk, ternyata beliau seorang yang ahli ibadah dan Insya Allah memiliki kondisi ruhiyyah yang baik pula.
Pada intinya, mari kita perbaiki kondisi ruhiyyah kita. Agar Allah senantiasa menguatkan kita, membimbing kita dan menjaga kita dalam keindahan hidayah-Nya.
Wallahu’alambishowab
Rabu, 27 April 2011
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar