Tegar di Jalan Dakwah
Sebuah resume dan (sedikit) analisa
Ketika kita memutuskan untuk berjalan di jalan ini, berjuang demi menegakkan kalimatullah di bumi ini, maka sudah menjadi sunnatullah bahwa akan ada berjuta halangan dan rintangan dalam melaluinya. Jalan ini memang dipenuhi oleh onak dan duri, maka melewatinya diperlukan pelindung guna terlindungi diri dari duri-duri yang menghalangi perjalanan suci ini. Pelindung itu adalah iman dan kekuatan ruhiyah yang menggelora di dada.
Ustadz Cahyadi Takariawan dalam bukunya Tegar di Jalan Dakwah menjelaskan beberapa onak dan duri yang ada di jalan ini. Problematika tersebut terbagi menjadi 2, yaitu internal dan ekternal. Adapun hambatan internal merupakan hambatan yang berasal dari dalam individu atau berasal dari sang da’i/da’iyah atau dari dalam internal organisadi dakwah tersebut. Problematika tersebut diantaranya adalah gejolak kejiwaan. Sebagai seorang manusia biasa kita memiliki sifat-sifat manusia pada umumnya. Memiliki rasa, asa, syahwat, cemburu. Kita adalah manusia yang bisa marah, bisa cemburu. Hal ini tentu wajar mengingat kita bukanlah malaikat yang terbebas dari nafsu. Gejolak-gejolak kejiwaan tersebut memang wajar ada pada diri kita, namun ketika ia keberadaanya tidak sesuai dengan “porsinya” tentu akan merugikan diri kita. Bila kita tengok pada kondisi saat ini, memang benar ketika sifat-sifat tersebut ada pada diri kita terlalu berlebihan, maka akan membuat kita terjebak pada tipu daya dunia. Ambillah contoh, ketika seoarang akh terlalu terobessi untuk menjadi pemimpin, apa jadinya organisasi tersebut jika dipimpin oleh seseoarang yang gila jabatan. Rosulullah sendiri mengatakan untuk TIDAK memberikan amanah kepada orang yang meminta. Atau pada kondisi lain ketika seoarang ukh begitu iri pada apa yang dimiliki oleh saudarinya yang lain. Rasa iri dengki tentu akan merusak kinerjanya dalam menjalani amanah ini. Atau ketika timbul pertanyaan besar pada diri kita, mengapa saya harus ada di posisi ini, mengapa dia yang diputuskan ada diposisi itu. Sungguh ikhwah, sesungguhnya kedengkian akan menghapuskan segala amal kebaikan, sebagaimana api yang membakar habis kayu yang dibakarnya. Maka mari kita sama-sama berdo’a dan berlindung kepada Allah dari segala sifat buruk yang akan merusak diri kita.
Problematika lainnya adalah adanya sifat tidak atau kurang tawazun. Kurang tawazun tersebut bisa antara aktivitas ruhy dan aktivitas lapangan. Seperti yang telah saya ungkapkan di atas, bahwa obat mujarab dalam penyakit internal kita adalah ruhiyah yang kuat. Aktifitas yang banyak seharusnya dibarengi dengan ruhiyah yang kuat.Sayangnya kondisi saat ini (sepertinya) tidak begitu, dimana tilawah 1 juz perhari tidak terlaksana, aktifitas ibadah di malam hari pun lewat begitu saja. Hal inilah yang pada akhirnya membuat aktivitas dakwah lama kelamaan terasa kering dan hambar. Selain itu kita juga kadangkala tidak bersifat tawazun dalam berdakwah di luar dengan dakwah pada keluarga. Inilah yang benar-baner saya rasakan. Saya yang tinggal jauh dari orang tua memang tidak terlalu merasa “direpotkan” dengan izin untuk dauroh ini atau dauroh itu. Akan tetapi masalah justru dating ketika liburan tiba. Di kampus, saat liburan adalah saat agenda-agenda dakwah begitu padat, mulai dari rekrutmen, sampai pembinaan kader. Di satu sisi saya harus memenuhi kewajiban saya sebagai aktivis dakwah, akan tetapi di sisi lain keluarga saya juga mempunyai hak atas saya. Dilemma besar itulah adalah keluarga. Saya kerap kali binggung ketika liburan datang dan orang tua menelepon meminta saya untuk segera pulang. Hingga kini saya masih seringkali kesulitan dalam menghadapi dilemma ini. Namun, saya coba siasati dengan memberikan pemahaman kepada orang tua, memberi pemahaman disini bukan berarti saya menjadi tidak pulang ke rumah sama sekali. Saya tetap pulang namun hanya untuk beberapa hari. Untuk saat ini itulah solusi yang paling mungkin saya lakukan. Semoga ke depannya saya bisa lebih tawazun kepada keduanya. Ketidakseimbangan yang lain adalah ketidakseimbangan antara perhatian terhadap kualitas dan kuantitas. Betapa kita sangat berbangga ketika banyak kader baru yang dapat direkrut, sehingga kita lupa bagaimana membina mereka untuk menjadi kader yang baik dan pada akhirnya proses pembinaan hanya berjalan saat awal perekrutan, ke sananya? Mereka seolah hilang ditean zaman. Ambillah contoh ketika ada perekutan saat orientasi memasuki lembaga dakwah. Kita begitu bangga ketika peserta yang mendaftar ada 100, 200, bahkan mungkin 1000. namun ketika proses pembinaan seharusnya berjalan demi menjaga mereka, nyatanya lagi-lagi kita belum mampu melaksanakannya. Proses mentoring, pengajian atau halaqoh hanya terjadi diawal. Sungguh kondisi yang menyedihkan. Atau ketika kita terfokus pada pembinaan kader dan seakan terlupakan pada jumlah mereka. Ikhwah, antara kualitas dan kuantitas merukapan hal yang sangat penting. Keduanya harusberjalan beriringan.
Ustadz Cahyadi menjelaskan bahwa penyebab ketidakseimbangan kita adalah, adanya pembagian kerja yang tidak seimbang, dengan adanya pembagian kerja yang tidak seimbang maka akan menyebabkan (sadar atau tidak) adanya single fighter. Ketika hanya seorang yang bekerja maka yang lain akan merasa kurang bertanggungjawab atau muncul lemahnya perasaan masuliyah. Kita juga seringkali salah memperhitungkan juga salah dalam memandang suatu hal. Padahal seperti yang kita ketahui bersama bahwa gagal merencanakan sama dengan merencanakan untuk gagal.
Melihat berbagai kendala di atas maka jalan perbaikan yang paling pertama adalah memperbaiki kualitas ruhiyah kita. Selain itu untuk hal-hal yang bersifat ke-jama’ah-an maka perlu adanya perbaikan dalam hal idariyah atau menejerial diantaranya dengan mengadakan musyawarah dalam musyawarah harus bersifat menyeluruh dalam artian segala keputusan yang diambil harus melalui pertimbangan yang utuh menyeluruh. Selain itu setiap anggota lembaga dakwah harus berartisapi aktif dalam setiap program lembaga dakwah.
Hal-hal di atas masih sebagaian kecil dari masalah-masalah atau problematika yang ada pada lembaga dakwah. Problematika yang lain adalah baying-bayang masa lalu. Sebagai seorang manusia yang pernah hidup kita pasti memiliki masa lalu. Terlepas masa lalu tersebut baik atau buruk. Menurut saya kedua bisa saja menjadi sumber masalah. Baik kita bahas masa lalu yang buruk terlebih dahulu. Masa lalu yang buruk dimana baying-bayang kejahiliahan seakan menghantui kita karena senantiasa dikaitkan dengan keadaan sekarang. Perilaku semasa jahiliah tersebut kadangkala menghambat perjalanan dakwah kita dimana kadang mad’u kita menganggap rendah kita karena sifat tercela kita di masa lalu. Atau bahkan kadang sifat-sifat jahiliyah tersebut masih ada dalam diri kita, pun setelah kita berhijrah. Adapun ketika kita menghadapi permasalahan di atas, menurut ustadz Cahyadi adalah dengan berusaha melupakan masa lalu denga berfokus pada saat ini dan berusaha agar selalu tersibghoh dengan nilai-nilai islam dan senantiasa melakukan muhasabah.
Adapun ketika masa lalu kita dipenuhi dengan hal indah. Contoh paling real adalah saya. Saya dulu tinggal di lingkungan yang sangat dipenuhi oleh nilai-nilai islami. Dimana setiap individu di dalamnya adalah orang-orang yang senantiasa mendekatkan diri kepada Allah. Tilawah, sholat dhuha, qiyam di malam hari, merupakan aktivitas harian yang tidak pernah ditinggalkan. Dimana hijab sunguh amat terjaga. (baca: saya tinggal di pesantren). Dan sekarang lingkungan saya tidak seperti dulu lagi. Permasalahannya adalah, ketika awal keluar dari pesantren saya seringkali terbayang-banyang masa lalu saya. Bahkan saya sering membanding-bandingkan antara kondisi saya saat ini dan kondisi saya pada waktu itu, perasaan yang timbul akhirnya adalah rasa kurang bersyukur. Terkadang bahkan kurang focus terhadap amanah dakwah yang saya emban. Namun, Ahlamdulillah pada akhirnya ada seorang sahabat yang memberikan nasihat yang amat mengena. Bagaimanapun indahnya kehidupan di pesantren, ia merupakan masa lalu dan sekarang sudah saatnya saya berjuang pada masa ini. Berjuang agar lingkungan saya saat ini bisa seperti pesantren tempat saya dibesarkan. Permasalahan saya mungkin bisa juga digolongkan pada permasalahan dalam penyesuaian diri. Dimana saya memasuki “zona” dakwah yang baru yang menuntut saya untuk dapat menyesuaikan diri. Kalau boleh diibaratkan, pada saat dipesantern saya seperti berada pada mihwar tandzimi, dimana karakter keislaman saya mulai dibentuk. Dan pada saat ini saya (rasanya) sedang berada pada mihwar muassasi dimana saya dituntut untuk dapat bersosialisasi dengan masyarakat yang (mungkin) belum terbina atau belum tumbuh karakter keislamannya. Disinilah tugas saya untuk “menularkan” sifat-sifat atau karakter keislaman saya (meski saya juga merasa bahwa karakter keislaman saya masih sangat amat jauh dari sempurna). Seperti yang dikatakan oleh ustadz Cahyadi, ada banyak tuntutan yang harus dilakukan, termasuk penyesuaian dengan realitas lapangan.
Sekarang marilah kita tengok problematika yang berasal dari eksternal. Menurut Ustadz Cahyadi ada 3 hal besar yang menjadi probelmatika ekternal, berikut adalah problematika tersebut:
Seperti yang kita ketahui bersama, Indonesia merukapan Negara yang kaya dengan keanekaragaman budaya. Budaya-bidaya tersebut juga ada beberapa yang kental dengan nilai-nilai Hindu Budha, yang hingga saat ini melekat pada bangsa kita. Pada akhirnya syirik, kurofat dan takhayul masih tetap eksis hingga saat ini. Fenomena syirik tersebut nyatanya masih amat kental dan menyentuh segala lini. Baik kesehatan, politik. Bahkan di sebuah universitas yang notabene di dalamnya adalah orang-orang yang memiliki intelektual yang tinggi ternyata masih mempercayai hal-hal tersebut. Terbukti dengan adanya bau kemenyan selama beberapa hari ketika universitas tersebut tengah mengadakan pembangunan besar-besaran. Problematika ini diperparah dengan peran media yang menghembuskan aroma-aroma goib yang ironisnya digemari masyarakat kita. Sebut saya tayangan yang berkedok religi yang nyatanya menyuguhkan hal-hal gaib untuk dikonsumsi masyarakat. Atau entah sudah berapa puluh film yang bertemakan horror berbau porno atau porno berbau horror (menjadi porno karena para pemainnya berbusana tidak senonoh) yang digandrungi masyarakat. Atau kasus yang baru-baru ini muncul, hilangnya 24 jasad bayi dari kuburannya. Diduga hilangnya ke 24 jasad tersebut akibat adanya kepercayaan pada ilmu-ilmu gaib. Sungguh fenomena yang amat menyedihkan. Bayi-bayi yang tidak berdosa itu harus “dianiyaya”. Problematika kesirikan tersebut HARUS segera dihilangkan karena akan merusak moral dan mentalitas bangsa.
Adanya globalisasi dan westernisasi-pun menambah deretan panjang permasalahan bangsa kita. Munculnya budaya-budaya barat yang dijadikan kiblat dan patokan dalam berperilaku. Makan di tempat-tempat yang khas amerika sungguh membuat masayarakat kita berbangga “Lihatlah saya, saya yang kebarat-baratan”. Padahal hasil keuntungan dari penjualan makanan dan minuman itu sebagaian akan disumbangkan untuk membantai ikhwah kita di Palestina. Pada kenyataannya masih ada juga aktivis dakwah yang masih makan di tempat-tempat tersebut. Makanannya memang berlebel halal, namun ridhokah dirimu akh, ukh ketika uang yang kau berikanadalah untuk menghancurkan kiblat pertama kita? Sungguh kita semua memang harus banyak mengoreksi diri. Termasuk saya juga yang kadang masih terbawa ajakan kerabat untuk makan di tempat-tempat seperti itu. Mari kita sama-sama memperbaiki diri. Adanya globalisasi tidak lepas dari peran media, baik itu televise, ataupun internet. Kemudahan akses ternyata juga memberikan dampak yang amat sangat negative bagi generasi kita. Lihatlah betapa hebohnya video ariel dan luna di internet yang dengan mudah dapat diakses BAHKAN oleh anak SD. Atau ketika televisi menjadi pencipta berhala-berhala baru. Generasi islam seolah terlupakan akan keindahan akhlaq Rosulullah SAW, dan seolah tersihir pada pesona Justine Bieber. Anak-anak kini lebih mengenal siapa Justine dari pada mengenal Umar. Astagfirullahaladzim, Ya Allah jadikanlah hamba dan anak keturunan hamba sebagai orang-orang yang mencintai Al Qur’an, mencintai kabaikan dan mencintai dakwah.
Jika kita berbicara mengenai problematika moral sedikit banyak juga dipengaruhi oleh adanya globalisasi yang disponsori oleh peran media. Problematika tersebut tidak hanya menghinggapi orang-orang dewasa, namun mirisnya generasi penerus bangsa juga bisa terjangkit. Problematika tersebut adalah mabuk-mabukan dan penyalahgunaan obat terlarang. Betapa banyak generasi muda kita yang terkena narkoba, kini rasanya sudah tak asing lagi ketika mendengar berita penangkapan anak SMP atau SMA disebabkan narkoba. Atau problem seks bebas yang lagi-lagi juga marak dikalangan pelajar. Adanya dorongan untuk melakukan perbuatan haram tersebut pada mulanya dipicu oleh maraknya tanyangan-tanyangan yang tidak mendidik. Seperti yang saya kemukakan di atas bahwa begitu maraknya film yang berkedok horror namun di dalamnya tedapat unsur pornografi. Atau ketika film yang menggambarkan adanya kehamilan di luar nikah, yang tidak meraka anggap sebagai masalah, toh anaknya bisa diaborsi. Adanya film-film tersebut tentu mempengaruhi generasi kita. Oleh sebab itu perlu adanya kerja sama dari berbagai elemen untuk menanggulangi permasalah ini. Orang tua dan guru harus benar-benar menanamkan nial agama dan moral bagi para anak. Pemberantasan pelacuran tidak akan pernah selesai dengan razia, perlu adanya tindak tegas demi menyelamatkan generasi kita.
Problem lain adalah penipuan juga perjudian. Betapa judi kini telah direkayasa dengan berbentuk kuis. Padahal sungguh telah jelas dalam Al Quran bahwa segala hal yang merugikan hak orang lain termasuk jenis perbuatan yang merusak bumi lihat surat Hud ayat 85.
Kekerasan kini juga tengah menghantui Indonesia. Adu kekuatan kita bukan hanya dipertontonkan di atas ring tinju, tapi kekerasan dapat diliha di jalan, di rumah bahkan tempat-tempat ibadah. Penyerangan dari kampong satu ke kampong yang lain rasanya sudah terlalu sering muncul sebagai menu harian di televisi, padahal perkaranya hanya hal yang remeh temeh. Atau ketika nyawa seseorang harus hilang dari raganya lagi-lagi karena hal sepele. Ketika setan sudah merasuki pelakunya, tak lagi memandang siapa yang akan dibunuhnya bisa jadi teman bahkan keluarga. Naudzubillahimindzalik
Padahal islam adalah agama yang membawa misi perdamaian. Islam menjamin kehidupan yang baik bagi setiap manusia, tanpa boleh didzalimi, lihat surat Al Maidah ayat 32.
Menurut saya akar paling pertama yang menyebabkan problematika ini adalah adanya korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN). Dengan adanya KKN sudah pasti Negara yang dirugikan. Uang yang seharusnya dapat dimanfaatkan untuk kesejahteraan rakyat justru masuk ke kanting oknum-oknum yang korupsi. Hal ini menyebabkan rakyat menjadi terus menderita dan terus-terusan berada dalam kemiskinan. Karena mereka miskin, mereka tidak mampu bersekolah (mengingat biaya sekolah juga melangit, adanya BOS nyatanya tidak menjawab atau tidak menjadi solusi terlaksananya program 9 tahun pendidikan) jangankan untuk bersekolah,untuk makan sehari-hari saja mereka harus berjuang embanting tulang, bersimbah keringat demi memenuhi tuntutan perut. Karena tidak bersekolah pada akhirnya mereka manjadi bodoh padahal katika seseorang bodoh maka ia akan mudah ditipu dan diperdaya orang lain. Lihatlah betapa bodohnya kita, membiarkan kekayaan Negara kita dirampas oleh orang lain didepan mata kita, lalu apa yang kita lakukan? Terdiam. Freeport salah satunya. Betapa kekayaan itu MILIK kita tapi siapa yang menikmati hasilnya? Atau betapa kita harus bersedih ketika menyaksikan saudara-saudara kita yang tinggal di wilayah dekat pertambangan Freeport yang masih berada dalam kebodohan karena tidak pernah mengenyam bangku pendidikan. Maka sudah saatnya kita bangkit. Memintarkan diri kita lalu memintarkan orang lain, bukankah ilmu yang bermanfaat pahalanya tidak akan pernah terputus? Selain itu pemerintah HARUS bertindak tegas terhadap para koruptor. Hukuman penjara rasanya tidak membuat jera mereka, nyatanya KKN sangat mengakar pada bangsa ini. Maka hukuman lain selain dipenjara harus segera dipikirkan agar kasus KKN ini tidak berkepanjangan.
Seperti yang sudah saya kemukakan di atas. Ketika menyelami jalan ini kita sudah semestinya memperkuat ruhiyah kita, mengencangkan ikat pinggang agar mampu meminimalisir sifat-sifat negative dalam diri kita. Adapun menurut Ustadz cahyadi ada 5 fakto yang perlu dimiliki oleh setiap aktivis dakwah agar mampu konsisten berjuang di jalan Allah. Diatarnya adalah:
1. Menguatkan dan membersihkan motivasi. Setiap motivasi kita dalam berjuang di jalan Allah hendaklah LILLAH, untuk Allah. Ikhlas melakukan segala aktivitas kebaikan karena Allah semata. Untuk mewujudkan keikhlasan, maka seorang aktivis dakwah harus senantiasa memperbaharui niatnya. Setiap aktivis hendaknya saling mengingatkan. Ketika kita telah menunaikan suatu perbuatan baik maka jangan lagi mengungkit-ungkitnya dimasa mendatang. Selain itu kita juga dituntut untuk selalu menunaikan segala kewajiban kita. Setiap aktivis dakwah juga seharusnya senantiasa mencintai ALLAH. Cinta tidak datang tiba-tiba. Maka kita harus berusaha menumbuhkan cinta kita kepada Allah dengan terus mendekatkan diri kepada Allah. Seoarang aktivus dakwah juga seharusnya senantiasa merasakan pengawasan Allah (muroqobatullah) juga harus hati-hati dalam beramal.
2. Mencapai derajat iman, degan cara menjadikan segala aktivitas berorientasi pada Allah serta berhati-hati dengan jerat-jerat duniawi yang menyilaukan mata.
3. Senantiasa bersabar akan segala ujian yang menimpanya karena dengan bersabar maka Allah akanmemberikan pahala yang besar dan mendapatkan berbagai macam kebaikan karena bersabar. Bagaimana caranya bersabar? Senantiasa mengingat keutamaan orang yang sabar dan melawan hawa nafsu kita.
4. Memperkuat ukhuwah. Ustadz Salim A. Fillah berkata bahwa ukhuwah erat kaitannya dengan iman. Ukhuwah hanya akan hadir ketika adanya pemahaman. Pemahaman akan karakter saudara/inya. Pantaslah ketika Imam Hasan Al Banna menempatkan ukhuwah pada urutan ke 9. Ini memandakan ukhuwah akan tercipta ketika kita sudah memahami karakter suadara kita, telah beramal bersama dengannya, ikhlas menerima saudara kita sebagaimana adanya.
5. Solidnya struktur dakwah. Untuk mewujudkannya diperlukan usaha yaitu: perlu adanya konsolidasi manajerial dan konsolidasi oprasionaaal.
6. Perencanaan yang matang. Untuk itu kita perlu merencanakan kemenangan dengan rencana yang matang. Selain itu diperlukan juga sumber daya manusia yang memadai dan berkualitas. Terakhir kita perlu perhitungan-perhitungan logis untuk menyiapkan gerak dakwah.
Seoarang aktivis dakwah harus senantiasa kuat menghadapi segala ujian baik itu berupa ejekan, fitnah bahkan serangan fisik. Kuat baik disaat sempit atau disaat lapang. Tegar menghadapi keluarga. Sebagai umat nabi Muhammad, kita sudah semestinya selalu meneladani beliau. Segala ujian pernah dihadapi oleh Rosulullah. Mulai dari ejekan yang berasal dari kaum kafir quraisy yang tiada henti-hentinya menghina beliau. Bukan hanya ejekan Rosulpun bahkan menerima serangan fisik. Oleh sebab itu kita harus senantiasa meneladani kesabaran Beliau.
Wallahu’alam bishowab…

Tidak ada komentar:
Posting Komentar